Rabu, 21 Maret 2012


Pengertian dan Ruang Lingkup Agribisnis

Pengertian dan Ruang Lingkup Agribisnis
  1. Agribisnis itu adalah suatu sistem yang utuh mulai sub-sistem penyediaan sarana produksi dan peralatan pertanian; sub-sistem usaha tani; sub-sistem pengolahan atau agroindustri dan sub-sistem pemasaran. Agar sub-sistem ini bekerja dengan baik maka diperlukan dukungan sub-sistem kelembagaan sarana dan prasarana serta sub-sistem pembinaan.
  2. Umumnya kelemahan dari pelaksanaan sistem agribisnis ini terletak pada lemahnya keterkaitan sub-sistem tersebut. Apa yang terjadi di lapangan adalah bahwa sub-sistem tersebut bekerja sendiri-sendiri.
  3. Agar pelaksanaan sistem agribisnis berjalan lancar dan agar keterkaitan antarsub-sistem bertambah kuat maka diperlukan dukungan sumberdaya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Penekanan pada SDA terletak pada bagaimana menerapkan sistem agribisnis yang memperhatikan aspek keberlanjutan (sustainibility). Penekanan pada SDM terletak pada bagaimana meningkatkan kualitas SDM di berbagai sektor kegiatan sistem agribisnis.
Pentingnya Memahami Wawasan Agribisnis
kita akan membahas ‘Pentingnya Memahami Wawasan Agribisnis’ dalam arti mengapa perlu agribisnis dalam pembangunan pertanian? Pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan yang berwawasan agribisnis ini mampu:
  1. meningkatkan pendapatan produsen;
  2. meningkatkan penyerapan tenaga kerja;
  3. meningkatkan perolehan devisa; dan
  4. menambah jumlah agroindustri baru.
Untuk itu pengalaman juga menunjukkan bahwa hal tersebut disebabkan didukung oleh strategi pertanian tangguh. Petaninya, pembinanya dan lembaganya harus tangguh. Ini artinya SDM dan lembaga pendukungnya (agrisupport activities) harus tangguh.
Kondisi lain yang mendukung keberhasilan pembangunan pertanian tersebut adalah karena kondisi agroklimat yang ada sangat menguntungkan dan kemauan politik pemerintah juga sangat mendukung. Walaupun demikian di sana-sini masih banyak kekurangan. Ini dapat dibuktikan dari produktivitas (produksi per hektar) komoditas yang sama dari yang dihasilkan oleh negara lain. Ini lazimnya lebih dikenal dengan istilah kalah bersaing.
Kondisi kalah bersaing pada masa mendatang dalam era globalisasi atau era GATT, maka hal tersebut akan lebih serius lagi. Oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan daya saing perlu terus ditingkatkan lagi.
Untuk meningkatkan daya saing ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan penggunaan teknologi baru, melakukan efisiensi di segala bidang agar biaya produksi dapat ditekan, produksi dapat ditingkatkan dan keuntungan yang lebih besar dapat diraih. Juga melaksanakan usahanya dengan sentuhan-sentuhan sistem agribisnis, sebab dengan sentuhan sistem agribisnis maka keuntungan akan lebih besar lagi. Untuk mengawali peningkatan daya saing itu perlu diberikan prioritas pada komoditas unggulan.
Keterkaitan Pelaku Ekonomi Agribisnis
Pelaku ekonomi atau yang lazim disebut pula dengan ‘dunia-usaha’ terdiri dari BUMN, Swasta dan Koperasi. Pembagian seperti ini tentunya tergantung dari kebutuhan, namun pembagian ‘dunia usaha’ menjadi BUMN, Swasta dan Koperasi adalah lazim digunakan dalam terminologi yang ada. Ketiga pelaku ekonomi ini saling bekerja sama satu sama lain menurut kepentingannya masing-masing.
Hal ini disebabkan baik BUMN, Swasta maupun Koperasi mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing. Karena itu mereka saling membutuhkan satu sama lain. Begitu pula halnya dengan usaha pengembangan agribisnis, ketiga pelaku ekonomi ini saling bekerja sama menurut kepentingannya masing-masing.
Agribisnis sebagai Suatu Pendekatan
Agribisnis itu adalah suatu sistem pendekatan pembangunan yang utuh. Sistem ini terdiri dari empat subsistem yaitu penyediaan sarana produksi dan peralatan, usahatani, pengolahan dan pemasaran. Dalam pelaksanaan lebih lanjut agar empat subsistem dapat berjalan dengan baik maka diperlukan dua subsistem lagi, yaitu subsistem infrastruktur dan subsistem pembinaan.
Oleh karena itu pelaksanaan agribisnis memerlukan koordinasi dari berbagai pendekatan pembangunan pertanian. Profesor Mosher dengan pendekatan lima prinsip utama, Soekartawi dengan RTIC-endowment, Schultz dengan konsep traditional agrivulture dan sebagainya.
Setelah koordinasi tersebut berjalan lancar, maka diperlukan penciptaan kondisi yang kondusif yang memadai di pedesaan atau di daerah di mana agribisnis tersebut dilaksanakan. Kondisi kondusif ini antara lain adalah
  1. tersedianya komponen agribisnis secara lengkap di pedesaan;
  2. adanya wirausaha dan kemitraan dan
  3. kondisi lain yang mendukung.
Faktor Strategi yang Perlu Diperhatikan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan agribisnis adalah faktor strategik yang komponennya terdiri dari:
  1. Lingkungan strategik dalam dan luar negeri;
  2. Permintaan;
  3. Sumberdaya alam dan manusia; dan
  4. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Pentingnya Sektor Pertanian Sebagai Penyedia Pengan dan Gizi
Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah antara lain melalui program diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan rehabilitasi. Diversifikasi horizontal pada dasarnya adalah penganekaragaman macam tanaman dan diversifikasi vertikal pada dasarnya adalah untuk meningkatkan nilai tambah. Intensifikasi dilaksanakan melalui berbagai program BIMAS, INMAS, INSUS atau OPSUS. Ekstensifikasi dilakukan melalui program perluasan areal apakah mencetak sawah baru atau melakukan tanaman di lahan yang semula tidak ditanami. Kemudian program rehabilitas khusus rehabilitasi infrastruktur (irigasi misalnya) dilakukan untuk mendukung program peningkatan produksi.
Peningkatan swasembada pangan memang diutamakan beras dan polowijo khususnya jagung dan kedelai. Karena itu pulalah dikenal program intensifikasi palawija jagung dan kedelai. Namun demikian bukan berarti program peningkatan produksi komoditas yang lain diabaikan begitu saja. Program peningkatan produksi non beras, jagung dan kedelai tetap pula dilaksanakan. Hal ini senada dengan semakin meningkatnya konsumsi karbohidrat, protein dan nabati yang disebabkan oleh semakin tingginya pendapatan per kapita dan semakin meningkatnya kesadaran akan kecukupan pangan dan gizi (Perhepi, 1989).
Sektor Pertanian Sebagai Penyedia Lapangan Kerja
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa sektor pertanian menyerap sekitar 49% dari angkatan kerja yang ada. Sebagian besar (75%) dari angkatan kerja di sektor pertanian ini tidak sekolah, sekolah tetapi tidak tamat Sekolah Dasar (SD) dan hingga tamat SD saja. Oleh karena itu dapat dimengerti kalau produktivitas kerjanya relatif rendah. Dari jumlah tersebut sebagian besar berada di subsektor tanaman pangan dan hortikultura.
Di samping penyerapan tenaga kerja yang begitu besar di sektor pertanian, maka pertumbuhan penyerapan kerjanya juga paling rendah yaitu sebesar 2,08%/tahun dalam periode 1980-1990. Jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan penyerapan kerja di sektor industri dan perdagangan atau angka rata-rata nasional sekalipun.
Bentuk partisipasi tenaga kerja di sektor pertanian sangat tergantung dari tanaman yang diusahakan dan beban kerja yang dilaksanakan. Oleh karena itu maka faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja lazimnya adalah macam tanaman yang diusahakan, beban kerja dikegiatan yang ditawarkan, luas areal, upah, teknologi, pria atau wanita, keterampilan (pengetahuan/pendidikan) dan sebagainya.
Sektor Pertanian Sebagai Penghasil Devisa
Ternyata selama beberapa tahun terakhir ini nilai ekspor pertanian meningkat terus. Begitu pula ekspor hasil olahan. Namun karena perkembangan nilai ekspor sektor ekonomi yang lain, khususnya sektor industri meningkat secara tajam, maka secara relatif (persentase), perkembangan ekspor hasil olahan produk pertanian tersebut menjadi menurun.
Para pengamat masih melihat adanya prospek yang tetap cerah pada ekspor hasil pertanian dan hasil olahannya pada masa mendatang. Namun bukan berarti hal tersebut tidak dijumpai tantangan. Akan diberlakukannya GATT dan semakin majunya perkembangan ekspor hasil pertanian dan hasil olahan negara lain, juga akan menjadikan persaingan pasar produk pertanian menjadi semakin meningkat. Oleh karena itu perlu ada upaya untuk meningkatkan daya saing produk pertanian antara lain melalui peningkatan kualitas, penyediaan bahan baku industri pertanian dalam jumlah cukup dan kontinu, penggunaan teknologi yang semakin modern dan terus mencari peluang pasar.
Sektor Pertanian Sebagai Sumber Pendapatan
Kegiatan di sektor pertanian memang mampu berperan meningkatkan pendapatan petani. Indikatornya pertanian antara lain meningkatnya produktivitas pertanian, banyaknya orang yang bekerja di sektor pertanian, nilai produksi yang secara absolut meningkat terus dan pendapatan petani yang juga terus meningkat dari waktu ke waktu.
Pentingnya Input (Sarana Produksi Pupuk, Bibit estisida, Tenaga Kerja dan Peralatan)
Sarana produksi pertanian lazimnya terdiri dari bibit, pupuk, pestisida, peralatan dan tenaga kerja. Kata lain sarana produksi adalah input. Input ini diperlukan untuk memperoleh output (produksi). Besar-kecilnya output sangat tergantung dari input. Jadi hubungan input-output dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = f (X1, X2, ………………, Xi, ……………….., Xn)
di mana Y = output dan X = input.
Penggunaan sarana produksi diusahakan seefisien mungkin. Ada tiga macam efisiensi dalam suatu usahatani, yaitu efisiensi teknis, efesiensi harga dan efisiensi ekonomi. Jadi problem dalam usahatani adalah bagaimana mencapai efisiensi ini (efisiensi ekonomi) agar diperoleh keuntungan yang tinggi.
Banyak-sedikitnya penggunaan input, sangat tergantung dari macam tanaman, agroklimatnya, lahan, tinggi tempat dan sebagainya. Tiap tanaman memerlukan dosis input yang berbeda-beda. Untuk itu petani yang belum memahaminya, disarankan mencari informasi kepada penyuluh pertanian.
Prinsip-Prinsip Ekonomi Penggunaan Input (Sarana Produksi)
Prinsip-prinsip ekonomi pada fungsi produksi pada dasarnya bagaimana memasukkan variabel harga pada karakteristik fungsi tersebut. Misalnya pada saat mencari efisiensi penggunaan input. Efisiensi ini salah satunya adalah efisiensi harga atau ada pula yang menyebutkan efisiensi alokatif yang dinyatakan dengan kondisi nilai produk marjinal input X, (NPMx) sama dengan harga input X (Px). Jadi NPMx = Px
Untuk mencari dan mencapai kondisi seperti ini memang tidak mudah. Oleh karena itu perlu diteliti terlebih dahulu kaitan produk total, (PT),produk marjinal (PM) dan produk rata-rata (PR) untuk mencari di mana dan berapa alokasi input agar diperoleh Elastisitas produksi lebih besar dari satu (Ep>1)
Hubungan Input Output
Fungsi produksi pada dasarnya adalah hubungan (fisik) antara output dan input. Hubungan ini dapat dituliskan sebagai Y = f (X). Jadi Y adalah variabel dependen (variabel yang dijelaskan) dan X adalah variabel independen (variabel yang menjelaskan).
Macam fungsi produksi pada dasarnya dapat dibagi dua yaitu linear dan non-linear. Bagaimana memilih fungsi produksi yang baik tergantung dari karakteristik data yang tersedia. Dengan demikian penelitian perlu menguji data yang akan dipakai dengan teknik membuat scatter diagram dari Y dengan masing-masing variabel yang akan menjelaskan Y.
Pemilihan model fungsi produksi yang terbaik sangat tergantung dari the goodness of fit dari fungsi produksi tersebut. Oleh karena itu peneliti perlu mengetahui asumsi dan beberapa kelemahan fungsi produksi yang ada.
Mengalokasikan Input Secara Efisien
Usahatani pada dasarnya adalah alokasi sarana produksi yang efisien untuk mendapatkan produktivitas pendapatan usahatani yang tinggi. Jadi usahatani dikatakan berhasil kalau diperoleh produktivitas yang tinggi dan sekaligus juga pendapatan yang tinggi. Untuk mencapai kondisi seperti itu maka penyediaan input harus tepat jumlah dan tepat waktu serta petani dapat melakukan usahataninya secara baik. Dengan demikian usahatani dikatakan berhasil bila usahatani tersebut mendapat dukungan sumber daya alam dan manusia yang memadai dan suplai sarana produksi yang memadai pula.
Kondisi seperti itu dapat dicapai dengan pancausahatani yaitu (1) melakukan pengolahan lahan yang baik; (2) memakai pupuk yang baik dan benar; (3) menggunakan bibit unggul; (4) melakukan pemberantasan hama dan penyakit dengan cara pemberantasan hama penyakit terpadu atau integrated pest management dan (5) melaksanakan irigasi secara baik pula. Karena banyak produksi yang hilang dan karena petani kurang mengetahui pasar; maka ada dua hal lagi yang perlu dikuasai petani yaitu post harvest technology (pengolahan) dan marketing (pemasaran).
Bila usaha-usaha tersebut sudah dilakukan dan sudah disertai dengan berbagai macam penyuluhan, maka usahatani yang efisien akan dapat dicapai.
Biaya Penerimaan dan Keuntungan Usaha Tani
Keuntungan usahatani atau sering disebut pendapatan usahatani dihitung dengan cara total penerimaan dikurangi total biaya. Total penerimaan adalah produksi dikalikan harga. Karena di dalam praktik petani menjual lebih dari satu kali, dengan harga yang berbeda-beda, maka data tentang ini perlu dihitung secara cermat.
Biaya produksi dibedakan menjadi biaya usahatani yang tetap (fixed cost) dan biaya usahatani yang tidak tetap (variable cost). Begitu pula karena petani membelinya tidak sekaligus, maka perlu kecermatan di dalam menggali data ini.
Perhitungan data biaya, penerimaan dan keuntungan usahatani perlu dihitung persatuan luas. Lazimnya untuk ukuran luas adalah per-hektar.
Analisis Usaha Tani
Analisis usahatani dilakukan untuk melihat apakah suatu usahatani itu menguntungkan atau tidak. Alat yang dipakai untuk menghitung keuntungan ini adalah data yang membentuk total penerimaan dan total biaya. Kemudian alat analisis seperti R/C, B/C, NPV atau IRR dapat dipakai untuk mengukur keuntungan usahatani tersebut. Justifikasinya adalah bila R/C > 1 (dapat 1,5 atau 2,0 tergantung alasannya); B/C > 1, NPP = positif dan IRR lebih besar dari tingkat bunga.
Faktor Yang Perlu Diperhatikan
Setiap proses pengolahan produk pertanian (agroindustri), akan berbeda satu sama lain, tergantung dari ciri produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku. Namun secara umum, faktor yang mempengaruhi prosesing produk pertanian ini adalah masalah SDM; keadaan input atau bahan baku dan hal lain yang berkaitan dengan alat dan bahan. SDM perlu tersedia bukan saja kuantitasnya tetapi juga kualitasnya seperti yang diperlukan dalam agroindustri tersebut. Kemudian yang berkaitan dengan input (bahan baku) adalah tergantung dari tersedianya input, kontinuitas tersedianya input, kualitas input dan harga input. Selanjutnya tentang alat dan metode sangat tergantung dari skala perusahaan yang ada. Makin modern usaha agroindustri, maka makin kompleks atau makin modern alat dan metode yang digunakan.
Mengembangkan Produk Olahan (Produk Agroindustri)
Produk agroindustri tidak selalu berbentuk fisik seperti kripik pisang; teh kotak, juice sirsat dan sebagainya; tetapi ada yang tidak berbentuk fisik seperti jasa agroindustri (konsultan), bantuan organisasi, ide dan sebagainya. Sedangkan produk agroindustri yang berbentuk fisik yang bahan bakunya diperoleh dari produk usahatani, maka produk agroindustri tersebut dinamakan produk sekunder (produk olahan).
Sebaliknya bila produk usahatani langsung dijual ke pasar, maka produk tersebut dinamakan produk primer. Kapan suatu produk pertanian dijual dalam bentuk produk primer atau sekunder tergantung dari ciri produk tersebut. Pengolahan produk primer ke produk sekunder, utamanya dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah. Bila ada nilai tambah yang lebih tinggi, maka keuntungan usahatani akan lebih besar lagi.
Produk agroindustri yang dihasilkan dari proses pengolahan sangat tergantung dari tersedianya bahan baku yang cukup dan kontinu; kualitas dan harga. Sedangkan pengembangan produk agroindustri sangat tergantung dari permintaan pasar atau permintaan konsumen. Perubahan yang ada di pihak konsumen apakah itu selera, tingkat pendapatan konsumen dan jumlah konsumen yang semakin bertambah adalah menentukan volume produk agroindustri yang dijual ke pasar. Kadang-kadang bukan volume yang bertambah tinggi tetapi juga tuntutan kualitas produk yang juga menaik.
Bila pasar sudah jenuh, maka perlu strategi penetrasi pasar. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah barang agroindustri yang dijual, misalnya melalui promosi yang lebih intensif lagi. Kalau strategi ini tidak membawa hasil, maka perlu dilakukan strategi pengembangan pasar. Artinya, produk agroindustri yang sama dijual di pasar yang lain atau di tempat yang baru. Karena di tempat yang baru tersebut produk agroindustri ini belum dikenal, maka perlu ada intensifikasi promosi yang lebih gencar.
Bila saja dua macam strategi itu sudah tidak mampu lagi menaikkan omzet penjualan, maka produk agroindustri tersebut perlu ditinjau kembali. Mengapa produk tersebut tidak mampu bersaing di pasaran? Di sini diperlukan strategi pengembangan produk atau strategi diversifikasi vertikal. Artinya produk yang dijual dengan perlakuan yang berbeda. Misalnya teh kotak isi 350 ml; 500 ml; 650 ml; 750 ml; dan 1000 ml (1 liter). Atau bentuk kemasan diubah sedemikian rupa sehingga lebih menarik pembeli; atau warna kemasan diubah; atau label tulisan diganti yang semuanya itu agar dapat memikat pembeli.
Kalau ketiga strategi ini sudah kurang atau tidak mampu lagi menaikkan penampilan pasar produk agroindustri tersebut, maka strategi terakhir adalah melakukan diversifikasi produk. Jadi perusahaan tidak menjual teh kotak saja, tetapi juga sirsat, kelapa, jeruk, jambu, blimbing dan sebagainya,. dalam bentuk juice. Karena ini produk baru, maka perlu promosi yang lebih intensif lagi.
Relevansi Pengolahan Hasil dan Pemasaran
Produk yang dihasilkan oleh suatu proses pengolahan mengikuti perubahan yang ada pada konsumen. Untuk itu perlu ada penelitian konsumen baik itu perubahan pada selera atau lainnya.
Setiap perubahan konsumen akan menentukan produk yang akan dihasilkan. Perubahan harga, tempat penjualan dan strategi promosi (pro-duct, price, place dan promotion atau strategi 4-P). Teori pemasaran modern strategi 4-P ini sudah berubah sesuai dengan pasar yang ada misalnya apakah ada kekuatan (power) sehingga power tersebut akan mempengaruhi market structure, market conduct dan market performance (struktur pasar, pelaksanaan pemasaran dan penampilan pasar).
Oleh karena itu pemasaran itu bersifat dinamis, berubah setiap saat dan itu perlu diantisipasi oleh processing (pengolahan produk). Bila pengolahan produk berubah itu artinya cara dan bahannya juga berubah dan perubahan ini berarti perubahan biaya juga.
Arti dan Fungsi Pemasaran
Kegiatan pemasaran adalah salah satu sub-sistem dari agribisnis. Oleh karena itu dalam melakukan usaha di bidang pertanian, maka aspek pemasaran harus sudah masuk dalam pertimbangan. Banyak argumen yang berbeda dalam mengartikan pemasaran, tetapi pada umumnya bermakna sama, yaitu ‘penyampaian barang, jasa dan ide (gagasan) dari produsen ke konsumen untuk memperoleh laba dan kepuasan yang sebesar-besarnya’.
Kegiatan pemasaran bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan kegiatan yang lain. Seperti kegiatan usahatani (kegiatan produksi) dan distribusi. Dalam praktiknya, kegiatan pemasaran melibatkan lembaga pemasaran yang ada dan melibatkan peran konsumen (pembeli barang). Bahkan akhir-akhir ini banyak teori pemasaran yang justru dalam pembahasannya lebih banyak ditekankan pada peran konsumen ini. Apakah perannya sebagai pembentuk harga, perannya dalam membeli barang dan sebagainya.
Bagi produsen, pemasaran ini merupakan variabel yang di luar jangkauannya (exegenous variable). Produsen tidak mampu menguasai pasar secara utuh, karena pemasaran merupakan kegiatan tarik-menarik antara produsen-konsumen atau antara penawaran dan permintaan. Sayangnya yang memenangkan tarik-menarik tersebut adalah konsumen. Jadi kalau posisi produsen lemah, maka harga produksi akan dikendalikan oleh konsumen.
Untuk itu, produsen perlu memperkuat bargaining power (kekuatan menawar harga) misalnya dengan cara menjual produksi secara berkoperasi atau membuat kontrak jual-beli dengan pihak lain.
Lembaga Pemasaran
Lembaga pemasaran adalah institusi yang terlibat dalam kegiatan penyampaian barang, jasa dan ide dari produsen ke konsumen. Banyak-sedikitnya lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran disebabkan oleh banyak hal antara lain macam komoditas yang diperdagangkan, lokasi, volume, derajat risiko, dan sebagainya. Bila lembaga pemasaran itu bertindak terlalu aktif sehingga posisinya menekan produsen (petani), maka persentase penerimaan yang diterima produsen menjadi relatif rendah. Oleh karena itu, peran lembaga pemasaran dan petani perlu saling menguntungkan satu sama lain; sehingga tidak ada yang dirugikan. Sebab bagaimanapun juga lembaga pemasaran ini sangat diperlukan bagi petani untuk menjual barangnya. Bila kerja sama antara produsen dengan petani berjalan sangat rapi, maka persentase yang diterima petani dapat lebih baik dan lembaga pemasaran menerima keuntungan secara wajar juga.
Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran diperlukan untuk mengukur efisiensi pemasaran, menambah omzet penjualan, memudahkan promosi, memudahkan negosiasi dan meningkatkan kontrak bisnis dengan para partner dagang. Bentuk saluran dapat sederhana sampai kompleks. Hal ini disebabkan oleh karakteristik produk pertanian yang spesifik, musiman, mudah rusak, seringkali dipasarkan dalam keadaan segar dan karenanya harus dipasarkan dalam waku yang cepat.
Dengan mengetahui saluran pemasaran, maka distribusi marjin (keuntungan) pemasaran dapat dihitung dan selanjutnya efisiensi pemasaran dapat diketahui.
Prasarana Fisik
Prasarana dapat dikategorikan sebagai prasarana fisik dan non-fisik. Prasarana fisik, seperti yang dijelaskan di modul ini antara lain telepon, transportasi (jalan darat dan air), air dan listrik. Semakin baiknya prasarana dapat berakibat positif dan negatif. Prasarana yang semakin baik akan mendorong semakin tingginya aktivitas ekonomi daerah, pembangunan pertanian semakin lancar dan keuntungan petani semakin meningkat yang disebabkan oleh biaya semakin dapat ditekan. Dampak negatif antara lain, barang-barang ‘modern’ masuk desa dan petani menjadi cenderung konsumtif dengan barang-barang kota tersebut. Namun masih ada lagi dampak negatif lain yang tidak dijelaskan di modul ini.
Prsarana Non Fisik
Prasarana non-fisik ini juga berperan tidak kalah pentingnya dengan prasarana fisik. Lembaga penyedia sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan peralatan), lembaga kredit, lembaga penyuluhan dan lembaga yang mau membeli produk pertanian sangat diperlukan dalam proses produksi. Tujuannya adalah membantu petani untuk meningkatkan produksi dan pendapatan. Sayangnya prasarana non-fisik ini tidak di semua tempat berjalan seperti yang diharapkan.
Memanfaatkan Prasarana Semaksimal Mungkin
Prasarana diakui penting dalam mendukung kegiatan agribisnis. Tetapi kerja dari masing-masing prasarana harus rapi, harus padu dan lainnya saling mendukung dan saling siap. Untuk itulah perlu koordinasi dalam melaksanakan kegiatan agribisnis dan perlu ada perencanaan kegiatan agribisnis yang jelas.
Pembinaan Standardisasi dan Akreditasi
Selanjutnya akan kita tengok tentang pembinaan standarisasi dan akreditasi dari kegiatan agribisnis. Pembinaan ini menjadi penting karena dalam era-globalisasi dituntut keterbukaan, ketelitian, kemampuan bersaing, dan sebagainya. Oleh karena itu proses produksi harus jelas agar semua pihak baik produsen atau konsumen tidak dirugikan. Untuk itu pulalah maka Badan Agribisnis (1995) telah menetapkan tujuan dari diadakannya pembinaan standarisasi dan akreditasi ini, yaitu:
  1. Meningkatkan efisiensi produksi.
  2. Meningkatkan produksi dan pendapatan petani.
  3. Menciptakan iklim usaha yang sehat.
  4. Meningkatkan daya saing.
  5. Melindungi konsumen.
  6. Melancarkan jalannya aktivitas pemasaran.
  7. Mendorong berkembangnya investasi, dan
  8. Membantu kelestarian alam.
Pembinaan Pemgenbangan dan Informasi Pasar
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, peran informasi menjadi amat penting, baik untuk kepentingan sistem produksi, konsumsi maupun distribusi. Dengan penguasaan informasi yang lengkap, maka agribisnis akan berjalan lebih efisien dan kompetitif. Dengan demikian para pelaku agribisnis akan lebih diuntungkan. Bahkan kini banyak orang menganggap informasi itu seperti halnya suatu komoditi yang dapat diperjualbelikan. Dengan demikian, maka suatu informasi mempunyai nilai atau harga dan harga itu sangat ditentukan oleh tarik-menarik antara ketersediaannya informasi dan kebutuhan informasi tersebut.
Pembinaan Usaha dan Hubungan Kelembagaan
Disadari bahwa keterkaitan antara pelaku sistem agribisnis relatif lemah. Hal ini terjadi karena kurangnya penguasaan pasar (baik bagi konsumen maupun produsen), sehingga sering terjadi distorsi pasar. Itulah sebabnya mengapa harga produk pertanian sering berfluktuasi.
Karena itulah diperlukan pembinaan usaha (baik bagi petani maupun pembeli hasil pertanian) agar usahanya itu dapat tumbuh dan berkembang serta mampu bersaing di pasaran. Begitu pula karena banyaknya dan kompleksnya lembaga yang terlibat dalam kegiatan agribisnis, maka untuk tujuan efisiensi, diperlukan pembinaan terhadap hubungan kelembagaan para pelaku agribisnis ini.
Pembinaan Pemgenbangan dan Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan
Investasi adalah penting bagi peningkatan pembangunan. Oleh karena itu iklim investasi yang kondusif dan menguntungkan perlu diciptakan. Ini berarti kebijakan tentang investasi yang kondusif perlu diteruskan. Investasi berkaitan dengan bunga bank, oleh karena itu kebijakan soal bunga Bank perlu mendapatkan perhatian.
Investasi tidak boleh merusak lingkungan. Olehmod karena itu kebijakan soal ini juga perlu diperhatikan. Sebab investasi yang merusak lingkungan akan merugikan pemanfaatan sumber daya alam untuk generasi yang akan datang. Karena itulah diperlukan pembinaan pengembangan investasi dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar